Pages

Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 Februari 2013

Nasehat Untuk Istri

Imam Baihaqi dalam kitabnya, Syu'abul Iman, meriwayatkan sebuah nasehat yang disampaikan oleh seorang ibu kepada puterinya yang baru saja menikah dan akan dilepaskan untuk menemani suaminya. Sungguh merupakan nasehat yang sederhana namun sarat makna dan patut direnungkan oleh para akhwat dan ummahat yang ingin menjaga kestabilan biduk rumah tangga dalam mengarungi samudera kehidupan yang luas tak terkira. Nasehat ini juga dinukil oleh Imam Ghazali dalam kitabnya, Ihya Ulumiddin. Berikut ini terjemahan bebasnya:
Asma' binti Kharijah Al Fazary berpesan kepada puterinya ketika menikah (sebelum melepaskan kepergiannya menuju suaminya):
"Wahai puteriku sayang, tak lama lagi kau akan keluar meninggalkan ayunan tempat kau ditimang dulu, dan berpindah ke atas ranjang yang belum pernah kau lihat sebelumnya. Kau akan hidup bersama seorang kawan yang belum pernah kau kenal sebelumnya. Oleh karena itu, jadilah bumi tempat ia berpijak, maka ia akan menjadi langit yang menaungimu. Jadikanlah dirimu tempat sandaran baginya, maka ia akan menjadi tiang yang meneguhkanmu. Jadilah pelayan baginya, ia akan menjadi abdi bagimu. Jangan kau merepotkannya sehingga ia merasa kesal. Dan jangan terlalu jauh darinya sehingga ia lupa akan dirimu. Jika ia mendekatimu, maka dekatilah. Jika ia berpaling, maka menjauhlah. Peliharalah pandangannya, pendengarannya dan penciumannya. Jangan sampai ia memandang sesuatu yang buruk darimu. Dan jangan sampai ia mendengar kata-kata kasar darimu. Dan jangan sampai ia mencium bau yang tak sedap darimu. Jadikanlah setiap apa yang ia lihat adalah wajahmu yang cantik berseri-seri. Jadikanlah setiap apa yang ia dengar adalah ucapanmu yang santun dan lembut. Jadikanlah setiap apa yang ia cium adalah aroma wangi tubuh dan pakaianmu."
"Ayahmu dulu berpesan kepada ibumu: Maafkanlah segala kesalahan dan kekhilafanku, niscaya cinta kita akan terus bersemi. Ketika aku marah, janganlah kau memancing lagi amarahku. Karena benci dan cinta takkan pernah bersatu. Saat benci datang, cinta pun kan berlalu."
Demikian isi nasehat tersebut. Semoga bermanfaat.
Wallahu a'lamu bis showab.
Oleh Abu Faruq Ad-Dimasyqi
Next Dear >>

Nasehat Rasulullah Kepada Fatimah

"Sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita sholehah. Dan perkara yang pertama kali di tanyakan kepada seorang wanita pada hari kiamat nanti, adalah mengenai sholat 5 waktu dan ketaatanya terhadap suami" (HR.Ibnu Hibban dari Abu Hurairah)

Ada 10 wasiat Rasulullah SAW kepada putrinya Fatimah binti Rasulullah. 10 wasiat yang beliau sampaikan merupakan mutiara yang termahal nilainya bila kemudian dimiliki oleh setiap istri sholehah.

Wasiat tersebut adalah:

1). Ya, Fatimah kepada wanita yang membuat tepung untuk suami dan anak-anaknya, Allah pasti akan menetapkan kebaikan baginya dari setiap biji gandum melebur kejelekan dan meningkatkan derajat wanita itu.

2). Ya, Fatimah kepada wanita yang berkeringat ketika menumbuk tepung untuk suami dan anak-anaknya,niscaya Allah menjadikan dirinya dengan neraka 7 tabir pemisah.

3). Ya, Fatimah. Tiadalah seorang wanita yang meminyaki rambut anak-anaknya lalu menyisirnya dan mencuci pakaianya, melainkan Allah menetapkan pahala memberi makan seribu orang yang kelaparan dan memberi pakaian seribu orang yang telanjang.

4). Ya, Fatimah, Tiadalah wanita yang menahan kebutuhan tetangganya, melainkan Allah akan menahanya dari minum telaga kautsar pada hari kiamat nanti.

5). Ya, Fatimah, yang lebih utama dari keutamaan diatas adalah keridhoan suami terhadap istri. Andaikata suamimu tidak ridho kepadamu,maka akt tidak akan mendo'akanmu. Ketahuilah, Wahai Fatimah. Kemarahan suami adalah kemurkaan Allah.

6). Ya, Fatimah. Apabila wanita mengandung, maka malaikat memohonkan ampunan baginya, dan Allah menetapkan baginya setiap hari seribu kebaikan serta melebur seribu kejelekan. Ketika wanita merasakan sakit akan melahirkan, Allah menetapkan pahala baginya sama dengan pahala para pejuang di jalan Allah. Setelah seorang wanita melahirkan kandunganya, maka bersihlah dosa-dosanya seperti ketika dia di lahirkan dari kandungan ibunya. Apabila seorang wanita meninggal dunia ketika melahirkan, maka dia tidak akan membawa dosa sedikit pun dan akan di anggap sebagai mati syahid. Di dalam kubur akan mendapat pertamanan indah yang merupakan bagian dari taman syurga. Dan Allah memberikan pahala kepadanya sama dengan pahala 1000 orang yang melaksanakan ibadah haji dan umrah, dan seribu Malaikat memohonkan ampunan baginya hingga hari kiamat.

7). Ya, Fatimah, Tiadalah wanita yang melayani suami selama sehari semalam dengan rasa senang dan ikhlas,melainkan Allah mengampuni dosa-dosanya serta memakaikan pakaian padanya di hari kiamat berupa pakaian yang serba hijau, dan menetapkan baginya setiap rambut pada tubuhnya seribu kebaikan. Dan Allah memberikan kepadanya pahala 100 kali beribadah haji dan umrah.

8). Ya Fatimah, Tiadalah wanita yang tersenyum di hadapan suami, melainkan Allah memandangnya dengan pandangan penuh kasih sayang(rahmat).

9). Ya, Fatimah, Tiadalah wanita yang membentangkan alas tidur untuk suami dengan rasa senang hati, melainkan para Malaikat yang memanggil dari langit menyeru wanita itu agar menyaksikan pahala amalnya, dan Allah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang.

10). Ya, Fatimah. Tiadalah seorang wanita yang membantu meminyaki kepala suaminya dan menyisir rambutnya, meminyaki jenggot dan memotong kumisnya, serta memotong kukunya, melainkan Allah memberi minuman dari air syurga yang di kemas indah yang di datangkan dari sungai-sungai Syurga. Dan Allah mempermudah sakaratul maut baginya, bebas dari siksa neraka serta dapat melintasi shiratal-mustaqin dengan selamat.
Semoga Bermanfaat, wallahu'alam

Next Dear >>

Sabtu, 26 Januari 2013

Kumpulan Hadits Tentang Wanita

Kumpulan Hadits Tentang Wanita

Hadits Tentang Wanita
Hadits adalah perkataan dan perbuatan dari Nabi Muhammad SAW. Hadits sebagai sumber hukum dalam agama Islam memiliki kedudukan kedua pada tingkatan sumber hukum di bawah Al-Qur'an. Berikut ini adalah beberapa hadits yang berkaitan dengan wanita yang dirangkum dari berbagai sumber. Semoga dengan mengetahui dan mengamalkan hadits-hadits ini, kita dapat mejadi orang yang lebih baik. Wallahu A'lam Bishawab :)

1. Abdullah bin Amr radhiallahu ‘anhuma meriwayatkan sabda Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam:

"Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah." (HR. Muslim no. 1467)

2. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Umar ibnul Khaththab radhiallahu'anhu:

"Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu istri shalihah yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan mentaatinya, dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya." (HR. Abu Dawud no. 1417. Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah berkata dalam Al-Jami’ush Shahih 3/57: "Hadits ini shahih di atas syarat Muslim.")

3. Berkata Al-Qadhi ‘Iyyadh rahimahullah:

"Tatkala Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan kepada para sahabatnya bahwa tidak berdosa mereka mengumpulkan harta selama mereka menunaikan zakatnya, beliau memandang perlunya memberi kabar gembira kepada mereka dengan menganjurkan mereka kepada apa yang lebih baik dan lebih kekal yaitu istri yang shalihah yang cantik (lahir batinnya) karena ia akan selalu bersamamu menemanimu.

Bila engkau pandang menyenangkanmu, ia tunaikan kebutuhanmu bila engkau membutuhkannya. Engkau dapat bermusyawarah dengannya dalam perkara yang dapat membantumu dan ia akan menjaga rahasiamu. Engkau dapat meminta bantuannya dalam keperluan-keperluanmu, ia mentaati perintahmu dan bila engkau meninggalkannya ia akan menjaga hartamu dan memelihara/mengasuh anak-anakmu." (‘Aunul Ma‘bud, 5/57)

4. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah pula bersabda:

"Empat perkara termasuk dari kebahagiaan, yaitu wanita (istri) yang shalihah, tempat tinggal yang luas/ lapang, tetangga yang shalih, dan tunggangan (kendaraan) yang nyaman. Dan empat perkara yang merupakan kesengsaraan yaitu tetangga yang jelek, istri yang jelek (tidak shalihah), kendaraan yang tidak nyaman, dan tempat tinggal yang sempit." (HR. Ibnu Hibban dalam Al-Mawarid hal. 302, dishahihkan Asy-Syaikh Muqbil dalam Al-Jami’ush Shahih, 3/57 dan Asy-Syaikh Al Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 282)

5. Ketika Umar ibnul Khaththab radhiallahu'anhu bertanya kepada Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam:

"Wahai Rasulullah, harta apakah yang sebaiknya kita miliki?" Beliau Shallallahu'alaihi wa sallam menjawab:

"Hendaklah salah seorang dari kalian memiliki hati yang bersyukur, lisan yang senantiasa berdzikir dan istri mukminah yang akan menolongmu dalam perkara akhirat." (HR. Ibnu Majah no. 1856, dishahihkan Asy-Syaikh Al Albani rahimahullah dalam Shahih Ibnu Majah no. 1505)

6. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bagi lelaki yang ingin menikah:

"Wanita itu dinikahi karena empat perkara yaitu karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah olehmu wanita yang punya agama, engkau akan beruntung." (HR. Al-Bukhari no. 5090 dan Muslim no. 1466)

7. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

"Wanita (istri) shalihah adalah yang taat lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada dikarenakan Allah telah memelihara mereka." (An-Nisa: 34)

8. Al Bukhori meriwayatkan dari Abu Hurairah rodhiallohu anhu dari Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, yang artinya:

"Barangsiapa yang beriman kepada Alloh dan hari Akhir, janganlah ia mengganggu tetangganya, dan berbuat baiklah kepada wanita. Sebab, mereka diciptakan dari tulang rusuk, dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah bagian atasnya. Jika engkau meluruskannya. Maka engkau mematahkannya dan jika engkau biarkan, maka akan tetap bengkok. Oleh karena itu, berbuatlah baik kepada wanita." (HR. Bukhori dan Muslim)

9. Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah berkata:

"Tugas seorang istri adalah menunaikan ketaatan kepada Rabbnya dan taat kepada suaminya, karena itulah Allah berfirman:

"Wanita shalihah adalah yang taat," yakni taat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, "Lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada." Yakni taat kepada suami mereka bahkan ketika suaminya tidak ada (sedang bepergian), dia menjaga suaminya dengan menjaga dirinya dan harta suaminya." (Taisir Al-Karimir Rahman, hal.177)

10. Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:

"Apabila seorang wanita shalat lima waktu, puasa sebulan (Ramadhan), menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya: Masuklah engkau ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau sukai." (HR. Ahmad 1/191, dishahihkan Asy-Syaikh Al Albani rahimahullah dalam Shahihul Jami’ no. 660, 661)

11. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

"Maukah aku beritahukan kepada kalian, istri-istri kalian yang menjadi penghuni surga yaitu istri yang penuh kasih sayang, banyak anak, selalu kembali kepada suaminya. Di mana jika suaminya marah, dia mendatangi suaminya dan meletakkan tangannya pada tangan suaminya seraya berkata:

"Aku tak dapat tidur sebelum engkau ridha."
(HR. An-Nasai dalam Isyratun Nisa no. 257. Silsilah Al-Ahadits Ash Shahihah, Asy-Syaikh Al Albani rahimahullah, no. 287)

12. Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:

"Tidak halal bagi seorang istri berpuasa (sunnah) sementara suaminya ada (tidak sedang bepergian) kecuali dengan izinnya". (HR. Al-Bukhari no. 5195 dan Muslim no. 1026)

13. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda:

"Allah tidak akan melihat kepada seorang istri yang tidak bersyukur kepada suaminya padahal dia membutuhkannya." (HR. An-Nasai dalam Isyratun Nisa. Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 289)

14. Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:
"Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya lalu si istri menolak (enggan) melainkan yang di langit murka terhadapnya hingga sang suami ridha padanya." (HR. Muslim no.1436)

15. Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:

"Apabila seorang istri bermalam dalam keadaan meninggalkan tempat tidur suaminya, niscaya para malaikat melaknatnya sampai ia kembali (ke suaminya)." (HR. Al-Bukhari no. 5194 dan Muslim no. 1436)

16. Ahmad dari Abu Hurairoh rodhiallohu anhu dari Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, yang artinya:

"Wanita itu diciptakan dari tulang rusuk, jika kamu meluruskannya. Maka kamu mematahkannya. Jadi, berlemah lembutlah terhadapnya, maka kamu akan dapat hidup bersamanya.” (HR Hakim, shohih)

17. Kisah wanita yang akan berangkat menunaikan shalat 'ied, ia tidak memiliki jilbab, maka diperintah oleh Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam:

"Hendaknya Saudarinya meminjaminya Jilbab untuknya." (HR. Bukhari No. 318).

18. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda di akhir kehidupannya, dan hal itu terjadi pada haji Wada’:

"Ingatlah, berbuat baiklah kepada wanita. Sebab, mereka itu (bagaikan) tawanan di sisi kalian. Kalian tidak berkuasa terhadap mereka sedikit pun selain itu, kecuali bila mereka melakukan perbuatan nista. Jika mereka melakukannya, maka tinggalkanlah mereka di tempat tidur mereka dan pukul lah mereka dengan pukulan yang tidak melukai.

Jika ia mentaati kalian, maka janganlah berbuat aniaya terhadap mereka. Mereka pun tidak boleh memasukkan siapa yang tidak kalian sukai ke tempat tidur dan rumah kalian. Ketahuilah bahwa hak mereka atas kalian adalah kalian berbuat baik kepada mereka (dengan mencukupi) pakaian dan makanan mereka." (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah, shohih)

19. Ummu Salamah berkata:
"Wahai Rasulullah, bagaimana wanita berbuat dengan pakaiannya yang menjulur ke bawah?"

Beliau bersabda:

"Hendaklah mereka memanjangkan satu jengkal",
lalu ia bertanya lagi:
"Bagaimana bila masih terbuka kakinya?"
Beliau menjawab:

"Hendaknya menambah satu hasta, dan tidak boleh lebih". (HR. Tirmidzi 653 dan berkata: "Hadits hasan shahih").

20. Aisyah berkata,
"Aku bertanya kepada Rasulullah, siapakah yang lebih besar haknya terhadap wanita?"
Jawab Rasulullah,
"Suaminya. "
"Siapa pula yang berhak terhadap lelaki?"
Jawab Rasulullah,
"Ibunya."

21. Hadits yang diriwayatkan dari Sa’ad rodhiallohu anhu bahwa Rosululloh shollallohu'alaihi wa salam bersabda padanya:

"Apapun yang engkau berikan berupa suatu nafkah kepada keluargamu, maka engkau diberi pahala, hingga sampai sesuap makanan yang engkau angkat (masukkan) ke mulut istrimu." (HR Bukhori Muslim)

22. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, yang artinya:

"Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya…" (QS Ar Ruum: 21)

22. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, yang artinya:

"Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min:

"Hendaklah mereka menjulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang." (QS. Al-Ahzab: 59).

23. Al-Hushain bin Mihshan rahimahullahu menceritakan bahwa bibinya pernah datang ke tempat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena satu keperluan. Seselesainya dari keperluan tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya:
"Apakah engkau sudah bersuami?"

Bibi Al-Hushain menjawab:
"Sudah."
"Bagaimana (sikap) engkau terhadap suamimu?" tanya Rasulullah lagi.
Ia menjawab:
"Aku...
tidak pernah mengurangi haknya kecuali dalam perkara yang aku tidak mampu."

Rasulullah bersabda:
"Lihatlah di mana keberadaanmu dalam pergaulanmu dengan suamimu, karena SUAMIMU ADALAH SURGA DAN NERAKAMU."
(HR. Ahmad 4/341 dan selainnya, lihat Ash-Shahihah no. 2612)

24. Di dalam kisah gerhana matahari yang mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya melakukan shalat gerhana padanya dengan shalat yang panjang, beliau melihat surga dan neraka. Ketika beliau melihat neraka beliau bersabda kepada para shahabatnya:

"… Dan aku melihat NERAKA maka tidak pernah aku melihat pemandangan seperti ini sama sekali, aku melihat kebanyakan penduduknya adalah kaum WANITA."

Para shahabat pun bertanya:
"Wahai Rasulullah, Mengapa (demikian)?"

Beliau menjawab:
"Karena kekufuran mereka."

Kemudian mereka bertanya lagi:
"Apakah mereka kufur kepada Allah?"

Beliau menjawab:
"Mereka kufur (durhaka) terhadap suami-suami mereka, kufur (ingkar) terhadap kebaikan-kebaikannya. Kalaulah engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka selama waktu yang panjang kemudian dia melihat sesuatu pada dirimu (yang tidak dia sukai) niscaya dia akan berkata: ‘Aku tidak pernah melihat sedikitpun kebaikan pada dirimu."
(HR. Bukhari dari Ibnu Abbas radliyallahu 'anhuma)

25. Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:
"Ada dua kelompok termasuk ahli neraka, aku belum pernah melihatnya:

Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi, mereka memukul manusia dengan cambuknya, dan wanita yang kasiyat (berpakain tapi telanjang baik karena tipis, atau pendek yang tidak menutup semua auratnya), Mailat mumilat (bergaya ketika berjalan, ingin diperhatikan orang) kepala mereka seperti punuk onta yang berpunuk dua.

Mereka tidak masuk surga dan tidak mendapatkan baunya padahal bau surga itu akan didapati dari sekian dan sekian (perjalanan 500 tahun)." (HR. Muslim 3971, Ahmad 8311 dan Imam Malik 1421).

26. Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:

"Wahai Asma, sesungguhnya apabila wanita sudah mendapatkan haid (yakni, telah melewati usia kanak-kanak) maka yang layak untuk dilihat darinya hanyalah ini dan ini saja."
Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam mengisyaratkan pada wajah dan kedua telapak tangannya.

27. Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:

"Dan janganlah mereka (perempuan) membentakkan kaki (atau mengangkatnya) agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan." (QS. An-Nur : 31)

28. Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:

 "Siapa saja wanita yang memakai wangi-wangian kemudian melewati suatu kaum supaya mereka itu mencium baunya, maka wanita itu telah dianggap melakukan zina dan tiap-tiap mata ada zina." (HR. Nasaii ibn Khuzaimah & Hibban).

29. Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:

"Hendaklah mereka (perempuan) melabuhkan kain kudung hingga menutupi dada mereka." (QS. An-Nur : 31)

30. Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:

"Rasulullah melaknat perempuan yang mengikir gigi atau meminta supaya dikikir giginya." (HR. At-Thabrani)

31. Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:

"Sesungguhnya kepala yang ditusuk dengan besi itu lebih baik dari pada menyentuh kaum yang bukan sejenis yang tidak halal baginya." (HR. At-Thabrani & Baihaqi)

32. Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:

"Dan katakanlah kepada perempuan mukmin hendaklah mereka menundukan sebagian dari pandangannya." (QS. An-Nur : 31)

33. Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:

"Barang siapa memakai pakaian yang berlebih-lebihan, maka Allah akan memberikan pakaian kehinaan dihari akhir nanti." (HR. Abu Daud)

34. Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:

"Wahai anakku Fatimah! Adapun perempuan-perempuan yang akan digantung rambutnya hingga mendidih otaknya dalam neraka adalah mereka itu di dunia tidak mau menutup rambutnya daripada dilihat laki-laki yang bukan mahramnya." (HR. Bukhari & Muslim)

35. Dari Hamzah bin Abi Usaid al-Anshari, dari bapaknya, bahwa ia telah mendengar Rasulullah Shollallahu'alaihi wa Sallam bersabda kepada para wanita (saat itu beliau sambil keluar dari masjid, dan terlihat laki-laki dan wanita berbaur di jalan):

"Minggirlah kalian, karena tidak layak bagi kalian untuk berjalan di tengah. Kalian harus berjalan di pinggir." Sejak saat itu, ketika para wanita berjalan keluar, mereka berjalan ditepi tembok. Bahkan baju-baju mereka sampai tertambat di tembok, karena begitu dekatnya mereka dengan tembok ketika berjalan. (HR. Abu Daud; HASAN)

36. Dari 'Uqbah bin 'Amir rodhiyallohu'anhu, bahwa Rasulullah Shollallahu'alaihi wa Sallam:

"Berhati-hatilah dari menemui wanita."
Lalu berkata salah seorang dari Anshar:
"Wahai Rasulullah, bagaimana dengan saudara dari suami?"
Beliau bersabda:
"Saudara suami adalah kematian."

37. Dari ('Abdullah) bin 'Umar rodhiyallohu'anhu berkata:
Rasulullah Shollallohu'alaihi wa Sallam bersabda:

"Janganlah kalian melarang wanita-wanita kalian dari masjid-masjid, akan tetapi rumah-rumah mereka adalah lebih baik untuk mereka." (HR. Abu Daud dan Ibnu Khuzaimah; SHAHIH).

38. Dari 'Abdillah bin Mas'ud rodhiyallohu'anhu, dari Nabi Shollallahu'alaihi wa Sallam, beliau bersabda:

"Sesungguhnya wanita adalah aurat. Sehingga ketika ia keluar rumah, ia akan disambut oleh syaithan. Dan kondisi yang akan lebih mendekatkan dirinya dengan Rabbnya adalah ketika ia berada di rumahnya." (HR. Ibnu Khuzaimah; SHAHIH)

39. Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:

"Akan ada di akhir umatku kaum lelaki yang menunggang pelana seperti layaknya kaum lelaki, mereka turun di depan pintu-pintu masjid, wanita-wanita mereka berpakaian (tetapi) telanjang, di atas kepala mereka (terdapat sesuatu) seperti punuk onta yang lemah gemulai. Laknatlah mereka! sesungguhnya mereka adalah wanita-wanita terlaknat." (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad (2/233))

40. Ahmad dari Abu Hurairoh rodhiallohu anhu dari Rosululloh shollallohu'alaihi wa sallam, beliau bersabda, yang artinya:

"Wanita itu diciptakan dari tulang rusuk, jika kamu meluruskannya. Maka kamu mematahkannya. Jadi, berlemah lembutlah terhadapnya, maka kamu akan dapat hidup bersamanya." (HR Hakim, shohih)

Hadits tentang wanita haid

Hadits tentang wanita haid
1. Dari Abu Sai'd,  Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:

"Bukankah bila si wanita haid ia tidak shalat dan tidak pula puasa? Itulah kekurangan agama si wanita. (Muttafaqun'alaih, HR. Bukhari no. 1951 dan Muslim no. 79)

2. Dari Mu'adzah, ia berkata bahwa ada seorang wanita yang berkata kepada 'Aisyah,

"Apakah kami perlu mengqodho’ shalat kami ketika suci?"
'Aisyah menjawab,
"Apakah engkau seorang Haruri? Dahulu kami mengalami haid di masa Nabi shallallahu'alaihi wa sallam masih hidup, namun beliau tidak memerintahkan kami untuk mengqodho'nya."
Atau 'Aisyah berkata, "Kami pun tidak mengqodho'nya." (HR. Bukhari no. 321)

3. Dalam hadits Mu'adzah, ia pernah bertanya pada 'Aisyah radhiyallahu 'anha,

"Kenapa gerangan wanita yang haid mengqadha' puasa dan tidak mengqadha' shalat?"

Maka Aisyah menjawab, "Apakah kamu dari golongan Haruriyah?"
Aku menjawab, "Aku bukan Haruriyah, akan tetapi aku hanya bertanya."
Dia menjawab, "Kami dahulu juga mengalami haid, maka kami diperintahkan untuk mengqadha' puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha' shalat'.”
(HR. Muslim no. 335)
Berdasarkan kesepakatan para ulama pula, wanita yang dalam keadaan haid dan nifas tidak wajib puasa dan wajib mengqodho' puasanya. (Al Mawsu'ah Al Fiqhiyah, 28/ 20-21)

4. Imam Nawawi rahimahullah berkata, "Kaum muslimin sepakat akan haramnya menyetubuhi wanita haid berdasarkan ayat Al Qur'an dan hadits-hadits yang shahih." (Al Majmu', 2: 359) Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, "Menyetubuhi wanita nifas adalah sebagaimana wanita haid yaitu haram berdasarkan kesepakatan para ulama." (Majmu' Al Fatawa, 21: 624)

5. Allah Ta’ala berfirman,

"Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari (hubungan intim dengan) wanita di waktu haid." (QS. Al Baqarah: 222).
Imam Nawawi berkata, "Mahidh dalam ayat bisa bermakna darah haid, ada pula yang mengatakan waktu haid dan juga ada yang berkata tempat keluarnya haid yaitu kemaluan.

Dan menurut ulama Syafi'iyah, maksud mahidh adalah darah haid."
(Al Majmu', 2: 343)

6. Dalam riwayat yang muttafaqun'alaih disebutkan,

Dari 'Aisyah, ia berkata bahwa di antara istri-istri Nabi shallallahu'alaihi wa sallam ada yang mengalami haid. Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam ingin bercumbu dengannya. Lantas beliau memerintahkannya untuk memakai sarung agar menutupi tempat memancarnya darah haid, kemudian beliau tetap mencumbunya (di atas sarung). Aisyah berkata,
"Adakah di antara kalian yang bisa menahan hasratnya (untuk berjima') sebagaimana Nabi shallallahu'alaihi wa sallam menahannya?"
(HR. Bukhari no. 302 dan Muslim no. 293).

Imam Nawawi menyebutkan judul bab dari hadits di atas, "Bab mencumbu wanita haid di atas sarungnya". Artinya di selain tempat keluarnya darah haid atau selain kemaluannya.

7. Ketika 'Aisyah haid saat haji, Nabi shallallahu'alaihi wa sallam bersabda padanya,

"Lakukanlah segala sesuatu yang dilakukan orang yang berhaji selain dari melakukan thawaf di Ka'bah hingga engkau suci.” (HR. Bukhari no. 305 dan Muslim no. 1211)

Hadits tentang wanita muslimah

Hadits tentang wanita muslimah
1. Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:
"Aku tidak melihat orang orang yang kurang akal dan kurang agama yang lebih bias menghilangkan akal laki laki yang teguh daripada salah seorang diantara kalian (para wanita)." (HR. Al Bukhari no 304 dan Muslim no. 80)

2. Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:
"Janganlah kalian menikahi wanita karena kecantikannya, bisa jadi kecantikannya itu merusak mereka. Janganlah menikahi mereka karena harta-harta mereka, bisa jadi harta-harta mereka itu membuat mereka sesat. Akan tetapi nikahilah mereka berdasarkan agamanya. Seorang budak wanita berkulit hitam yang telinganya sobek tetapi memiliki agama adalah lebih utama." (HR. Muslim)

3. Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:
"Maukah aku beritahukan kepadamu tentang sebaik-baik harta pusaka seseorang? Yaitu wanita shalehah yang menyenangkan jika dipandang, yang taat padanya jika disuruh, yang bisa menjaganya jika ditinggal pergi." (HR. Abu Daud dan al-Hakim dari Umar ra.)

4. Dari Abu Hurairah, Rasulullah: "Wanita yang bagaimana yang paling baik?" Beliau menjawab: "Jika ia dipandang selalu menyenangkan, jika diperintah taat, dan tidak menyelisihinya terhadap perkara yang ia benci bila terjadi pada dirinya (istri) atau hartanya (suami)."

Hadits tentang wanita penghuni neraka

Hadits tentang wanita penghuni neraka
1. Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:
"Aku melihat ke dalam Surga maka aku melihat kebanyakan penduduknya adalah fuqara (orang-orang fakir) dan aku melihat ke dalam neraka maka aku menyaksikan kebanyakan penduduknya adalah wanita." (HR. Bukhari, no. 3069 dan Muslim no.7114, dari Ibnu Abbas dan Imran serta selain keduanya)

2. Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:
"Aku berdiri di depan pintu syurga, lalu (kulihat) kebanyakkan orang yang masuk kedalamnya adalah orang orang miskin, dan orang orang yang kaya ditahan kecuali penghuni neraka mereka disuruh untuk masuk ke,neraka, dan aku berdiri di depan pintu neraka maka (kulihat) kebanyakkan yang masuk kedalamnya adalah wanita". (H. R Muslim, no. 7113)

3. Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:

"Sesungguhnya penduduk surga yang paling sedikit adalah wanita." (HR. Muslim, no. 7118).
4. Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:
"Wanita mana saja yang meminta cerai pada suaminya tanpa sebab (yang syar'i) maka haram baginya wangi Surga." (HR. Abu Daud, no. 2228, dan Ibnu Majah, no. 2055). Di shohihkan oleh syekh Al Bani dalam "shohih sunan abu daud" (no. 1928).
5. Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:
"Apabila suami mengajak istri keranjangnya (untuk jima') lalu ia tidak memenuhi maka ia dilaknat oleh para malaikat sampai subuh".
Dalam riwayat : "lalu ia tidur malam sedang suaminya murka maka para malaikat akan melaknatnya sampai subuh."
Dalam riwayat lain: "Apabila istri diwaktu malam meninggalkan ranjang suaminya, ia enggan mendatanginya, maka yang di langit (Allah) akan murka kepadanya sampai ia minta keridhaan suaminya.
6. Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:
"Tidak boleh bagi perempuan yang beriman dengan Allah dan hari akhirat berpuasa (sunat) sedang suminya bersamanya kecuali dengan izinnya, dan tidak mengizinkan (seseorangpun) masuk kedalam rumahnya kecuali dengan izinnya."
7. Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:
"Bershadaqahlah kalian! Karena kebanyakan kalian adalah kayu bakarnya Jahanam!" Maka berdirilah seorang wanita yang duduk di antara wanita-wanita lainnya yang berubah kehitaman kedua pipinya, iapun bertanya: "Mengapa demikian, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Karena kalian banyak mengeluh dan kalian kufur terhadap suami!" (HR. Bukhari)
Next Dear >>

Selasa, 22 Januari 2013

Do'a Wanita Sholeha

Ya..Rabb..

Aku berdoa untuk seorang pria yang akan menjadi bagian dari hidupku
Seseorang yang sangat mencintaiMu lebih dari segala sesuatu
Seorang yang akan meletakkanku pada posisi di hatinya setelah Engkau dan Muhammad
Seseorang yang hidup bukan untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk-Mu dan orang lain

Wajah, fisik, status atau harta tidaklah penting
Yang terpenting adalah hati yang sungguh mencintai dan dekat dengan Engkau
Dan berusaha menjadikan sifat-sifat baikMu ada pada pribadinya
Dan ia haruslah mengetahui bagi siapa dan untuk apa ia hidup
Sehingga hidupnya tidak sia-sia

Seseorang yang memiliki hati yang bijak, tidak hanya otak yang cerdas
Seseorang yang tidak hanya mencintaiku, tapi juga menghormatiku
Seorang yang tidak hanya memujaku, tetapi juga dapat menasehatiku
Seseorang yang mencintaiku bukan karena fisikku, hartaku atau statusku tapi karena Engkau

Seorang yang dapat menjadi sahabat terbaikku dalam setiap waktu dan situasi
Seseorang yang membuatku merasa sebagai wanita shalehah ketika aku berada di sisinya
Seseorang yang bisa menjadi sang nahkoda kapal
Seseorang yang bisa menjadi penuntun kenakalan balita yang nakal
Seseorang yang bisa menjadi penawar bisa
Seseorang yang sabar mengingatkan saat diriku lancang

Ya..Rabb.
Aku tak meminta seseorang yang sempurna
Hingga aku dapat membuatnya sempurna di mataMu
Seseorang yang membutuhkan dukunganku sebagai peneguhnya
Seorang yang membutuhkan doaku untuk kehidupannya
Seseorang yang membutuhkan senyumku untuk mengatasi kesedihannya
Seseorang yang membutuhkan diriku untuk membuat hidupnya lebih hidup

Aku tidak mengharap dia semulia Muhammad SAW, tidak setaqwa Abu Bakar,
Pun tidak setampan Ali, ataupun segagah Umar, apalagi sekaya Utsman.
Aku hanya mengharap seorang pria akhir zaman,
Yang punya cita-cita mengikuti jejak mereka,
Membangun keturunan yang sholeh,
Membangun peradaban,
dan membuat Rasulullah bangga di akhirat

Karena aku sadar aku bukanlah
orang yang semulia Ummu Sulaim,
Atau setaqwa Aisyah, pun setabah Fatimah,
Ataupun sekaya bunda Khadijah, setegar Asma
Juga segagah Nusaibah, apalagi secantik Zainab.
Aku hanyalah seorang wanita akhir zaman
yang punya cita - cinta

Ya..Rabb.
Aku juga meminta, Jadikanlah ia pelindung bagiku
Buatlah aku menjadi wanita yang dapat membuatnya bangga
Berikan aku hati yang sungguh mencintaiMu sehingga aku dapat mencintainya dengan sepenuh jiwaku

Berikanlah sifat yang lembut, sehingga auraku datang dariMu

Berikanlah aku tangan sehingga aku mampu berdoa untuknya
Berikanlah aku penglihatan sehingga aku dapat melihat banyak dalam dirinya
Berikanlah aku lisan yang penuh dengan kata-kata bijaksana,
Mampu memberikan semangat serta mendukungnya setiap saat

Bunga mawar tak mekar dalam semalam, namun bisa layu dalam sedetik
Kota Baghdad tak dibangun dalam sehari, namun bisa hancur dalam sekejap

Perkawinan tak dirajut dalam pertimbangan sesaat, namun bisa saja terberai dalam sesaat
Pernikahan, bukanlah akhir dari sebuah perjalanan
Tapi awal sebuah langkah
Karenanya, jadikanlah pernikahan kami sebagai titian
Utk belajar kesabaran & ridho-Mu, ya Rabb

Dan bilamana akhirnya kami berdua bertemu, aku berharap kami berdua dapat mengatakan:
" Betapa Maha Besarnya Engkau karena telah memberikan kepadaku pasangan yang
dapat membuat hidupku menjadi sempurna".

Aku mengetahui bahwa Engkau ingin kami bertemu pada waktu yang tepat
Dan Engkau akan membuat segalanya indah pada waktu yang telah Engkau tentukan.

Amin... Ya Rabb...
Next Dear >>

Minggu, 20 Januari 2013

Kedudukan Wanita Sebelum Islam Datang Sampai Sekarang

Wanita kini yang begitu sibuk dengan urusan dunia

Wanita sebelum Rasulullah S.A.W, tidak berdarjat dan tidak berguna kecuali untuk memelihara keturunan dan mengatur rumahtangga. Apabila isteri melahirkan anak yang tidak cantik mereka akan membunuhnya. Wanita yang ‘subur’ dipinjam kepada lelaki (bukan suaminya) untuk melahirkan anak. Pendek kata, masa perkembangan peradaban Yunani, wanita hanya melayani cinta dan hawa nafsu.

Plato dan Aristotles
Aristotles tidak berpandangan baik terhadap kaum wanita. Dalam pandangannya, wanita adalah manusia yang serba kekurangan. Kehidupan dalam rumahtangga adalah kehidupan yang impian, dan adalah silap untuk menyamakan dengan taraf lelaki. Menurut Plato (guru kepada Aristotles), keberanian lelaki adalah dalam kepimpinan dan keberanian wanita adalah dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan yang rendah.

Zaman Yahudi

Pada zaman Yahudi, sebahagian orang menjadikan anak perempuan setaraf dengan pelayan ataupun hamba, dan ayahnya berhak menjualnya. Wanita boleh menerima waris, kecuali bila ayahnya tidak mempunyai keturunan anak lelaki. 

Dalam ‘Sifr Al Jamiah’ dinyatakan, “Aku dan hatiku berkeliling untuk menyelidiki dan mencari hikmat dan akal, dan untuk mengetahui kejahatan adalah kebodohan, dan untuk mengetahui kedunguan adalah kegilaan. Aku mendapatkan yang lebih buruk dari maut adalah wanita yang merupakan jaring, sedang tangannya adalah perangkap dan tali”.

Pepatah orang China mengatakan, “Dengarkanlah isterimu dan jangan mempercayainya”.

Pepatah Russia mengatakan, “Tidaklah anda dapatkan dalam setiap sepuluh wanita kecuali satu jiwa.”

Pepatah Itali mengatakan, “Kendali itu untuk beradu cepat dan kuda lumba, sedangkan tongkat itu untuk wanita yang buruk akhlaknya.”

Pepatah Sepanyol mengatakan, “Takutilah wanita yang buruk tingkah lakunya dan jangan membanggakan wanita mulia.”

Penganut Hindu

Disebutkan dalam hukum-hukum Hindu, wabah kematian, neraka, racun, ular dan api lebih baik daripada wanita.

Disebutkan dalam hukum Manu iaitu sebahagian dari ajaran Hindu, bahawa pada masa kecil wanita tunduk kepada ayahnya, pada masa muda tunduk kepada suaminya, pada masa jandanya tunduk kepada anak-anaknya. Dan ketika dia tidak mempunyai anak dan sanak saudara, ia tunduk kepada kerabat suaminya dan tidak boleh urus dirinya sendiri.

Bangsa Rom

Dinyatakan dalam hukum Romawi, perempuan dianggap hamba lelaki dan sebagai barang dagangan murah yang dapat dipergunakan sebagaimana dikehendaki. Ia menguasai wanita sekehendaknya sehingga hidupnya menjadi milik ayahnya, kemudian suaminya, kemudian anak-anaknya. Pemilikan mereka terhadapnya sama seperti memiliki haiwan dan benda mati. Laki-laki melihat kepada perempuan sebagai pembangkit syahwat dan perempuan itu syaitan dan kotor, dan ia tidak memiliki kekuasaan atas kebetinaannya.

Patut kita ketahui penghinaan dan ejekan yang dialami wanita Rom, iaitu ketika orang-orang Rom berkumpul untuk membahas hal ehwal kaum wanita. Mereka memutuskan bahawa wanita adalah makhluk yang berjiwa dan tidak akan mewarisi kehidupan ukhrawi sedangkan dirinya kotor dan tidak boleh memakan daging, tidak boleh ketawa dan tidak boleh berbicara. Wanita harus menghabiskan seluruh waktunya dalam layanan dan bersikap tunduk (seperti hamba).

Mereka menghina wanita antara lain dengan melarangnya bercakap sejak dari mula merangkak sehingga boleh berjalan, kemudian bekerja di rumahnya tanpa mengucapkan apa-apa perkataan pun. Apabila berbicara, ia akan menimbulkan bencana. Kerana percakapannya adalah alat merayu. Larangan tersebut adalah undang-undang yang dikeluarkan oleh anggota Dewan Tribunal Romawi yang mengharamkan wanita memiliki lebih emas, dan memakai baju berwarna warni serta menaiki kereta hingga sejauh satu batu dari Rome, kecuali perayaan-perayaan umum yang tertentu.

Ada suku bangsa yang menganjurkan wanita yang ditinggal mati suaminya agar bunuh diri. Isteri yang malang terjun dari tempat yang tinggi sehingga patah lehernya atau patah tulang rusuknya. Adakalanya wanita membakar dirinya di dalam api yang digunakan untuk membakar jasad suaminya. 

Orang-orang Mesir Kuno

Wanita di kalangan orang mesir kuno mempunyai kedudukan yang tinggi dan ini dapat dilihat dalam penyembahan Isis, dewi keibuan, cinta dan kecantikan.

Isi, dewi keibuan yang dipuja oleh orang Mesir kuno

Isis melambangkan kesuburan seperti wanita. Wanita Mesir juga dibebani kekuasaan dan tunduk di atas takhta kerajaan. Ratu pertama yang memerintah menurut sejarah ialah Hatshapsut.

Hatshaput adalah wanita pertama yang memerintah Mesir

Oleh kerana wanita dianggap makhluk yang tinggi kedudukannya, maka hukum-hukum peradaban Mesir melayan wanita dengan baik. Ini dapat kita saksikan dengan jelas dalam sejarah penulisan Mesir. 

Telah dijumpai lembaran-lembaran kertas dekat Taibah yang mencantumkan nasihat-nasihat Ptahhotep yang berbunyi; “Apabila engkau menjadi seorang lelaki yang berkedudukan, dirikanlah rumahtangga bagimu. Cintailah isterimu di dalamnya dengan cinta yang tulus. Berilah dia keperluannya berupa makanan dan pakaian. Dan berilah minyak wangi untuk isterimu. Kerana boleh menyegarkan anggota-anggota tubuhnya dan jadikanlah dia bahagia selama engkau hidup, kerana isteri adalah cermin suaminya yang memantulkan segala upaya yang dicurahkannnya demi kebahagiaannya. Jangan lah engkau bersikap kasar di dalam rumah. Kerana kelembutan itu mendekatkan hati wanita, sedang kekasaran itu menjauhkannya.”

Zaman Arab Jahiliyah

Di zaman Arab Jahilliyah, wanita mendapat penghormatan yang amat sedikit. Ramai wanita dianiayai. Beberapa contoh yang buruk malah paling kejam ialah menguburkan bayi hidup-hidup. Kekejaman terhadap bayi perempuan di kalangan Arab zaman jahiliyah amat menyedihkan dan sangat hina. Banyak kes penguburan hidup-hidup bayi yang tidak berdosa.

Allah
 S.W.T berfirman yang maksudnya, 

“Dan apabila seseorang dari mereka diberi khabar dengan kelahiran anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya dan dia sangat marah." 
(Surah An Nahl : Ayat 58)

“Ia menyembunyikan dirinya dari orang ramai disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan apakah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup), ketahuilah alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” 
(Surah An Nahl : Ayat 59)

“Dan demikianlah pemimpin-pemimpin mereka menjadikan orang-orang musyrik itu menganggap baik membunuh anak-anak mereka untuk membinasakan mereka dan untuk mengaburkan mereka bagi agama mereka. Dan kalau Allah mengkehendaki, nescaya mereka tidak mengerjakannya, tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” 
(Surah Al An’am : Ayat 137)

Kes bunuh bayi hidup-hidup dilakukan disebabkan takut jatuh miskin. Ini seperti yang diberitahu oleh Imam Al Qurthubi, “Di antara bangsa Arab ada yang membunuh anaknya kerana takut miskin, sebagaimana disebutkan Allah S.W.T. Di antara mereka ada yang membunuhnya secara kejam, tanpa alasan apa pun mereka membunuh. Mereka adalah suku-suku Rabiah dan Mudlar yang membunuh anak-anak perempuan demi harga diri.”

Diriwayatkan, seorang lelaki sahabat Rasulullah S.a.w kelihatan resah di hadapan Rasulullah S.a.w. Kemudian Rasulullah S.a.w bertanya kepadanya, “Mengapa engkau bersedih?”

Orang itu menjawab, “Ya Rasulullah, aku telah berbuat dosa di zaman jahiliyah dan takut Allah tidak mengampuni jika aku masuk Islam.”

Baginda berkata, “Ceritakanlah kepadaku tentang hal itu.”

Orang itu berkata, “Ya Rasulullah, aku termasuk antara orang-orang yang membunuh anak-anak perempuan. Tatkala aku mendapat anak perempuan, isteriku memohon dariku agar membiarkannya. Aku pun membiarkannya sampai besar dan menjadi wanita yang paling cantik. Orang-orang meminangnya. Timbul rasa bangga dalam diriku dan hatiku tidak mengizinkan untuk mengahwinkannya dan membiarkannya di rumah tanpa kahwin.

Aku
 berkata kepada isteriku, aku ingin pergi ke suku lain untuk mengunjungi para kerabatku dan ingin membawa puteriku. Isteriku gembira atas hal itu dan menghiasinya baju cantik dan barang perhiasan. Ia minta agar aku berjanji untuk tidak mengkhianatinya. Aku pergi bersamanya menuju ke tepi sebuah sumur. Kemudian aku memandang ke dalam sumur itu. Anak perempuan itu mengerti, aku akan melemparkannya ke dalam sumur. Ia pun memelukku dan mulai menangis seraya berkata, “Wahai ayahku, apakah yang akan engkau lakukan terhadapku?”

Aku pun kasihan kepadanya , kemudian aku memandang ke dalam sumur dan timbul rasa bangga padaku. Kemudian ia memelukku dan berkata, :Wahai ayahku, janganlah engkau mengkhianati amanah ibuku.”

Aku terus memandang ke dalam sumur dan memandangnya pula hingga syaitan mengalahkan aku, lalu ku pegang dia dan ku campakkan ke dalam sumur kemudian ia berteriak di dalam sumur, “Wahai ayah, engkau telah membunuhku!”

Aku tinggal di situ hingga lenyap suaranya, lalu aku pulang. Menangislah Rasulullah S.a.w dan para sahabatnya, baginda berkata; “Andaikata aku disuruh menghukum seseorang lantaran perbuatan dilakukannya di zaman jahiliyah, nescaya aku menghukummu.”

Wanita juga bertindak bengis terhadap anak perempuan di zaman jahiliyah seperti yang dilakukan oleh lelaki. Menurut Ibnu Abbad, wanita di zaman jahiliyah ada yang bila mengandung, ia menggali lubang dan berbaring di tepinya. Apabila lahir bayi perempuan, ia akan mencampakkannya ke dalam lubang tersebut dan menanamnya hidup-hidup, tetapi apabila bayi lelaki yang lahir maka ia pun membiarkannya hidup.

Menurut Qatadah, suku Mudlar dan Khuzaah menguburkan anak-anak perempuan hidup-hidup dan yang paling kejam antara mereka ialah dari Bani Tamim. Mereka takut tertindas.

Penghinaan terhadap wanita di zaman jahiliyah Arab bukan hanya terbatas kepada penguburan bayi hidup-hidup, tetapi kehinaan itu meliputi seluruh segi kehidupan mereka, seperti wanita dijadikan hamba seks, hamba abdi yang boleh diperintahkan apa saja dan tidak mempunyai apa-apa hak.

Setelah kedatangan Islam, martabat kaum wanita diangkat dan dimuliakan. Tiada lagi diskriminasi terhadap kaum wanita dan mereka juga mempunyai hak-hak tertentu di dalam kehidupan. Begitulah adilnya Islam terhadap kaum wanita dan telah membebaskan mereka dari diskriminasi yang telah sekian lama membelenggu diri mereka.

Wanita Kini

Semakin ramai wanita yang bekerjaya

Jika kita lihat pada wanita sekarang, mereka terlalu taksub untuk bersaing dan ada yang mahu melebihi kaum lelaki. Semoga kita tidak mudah lupa diri dan begitu kejarkan kejayaan duniawi yang sementara. Jika dilihat di kebanyakan universiti negara kita sekarang, rata-ratanya dipenuhi oleh kaum wanita. Maka tidak mustahil, suatu masa nanti, semakin ramai isteri berkerjaya sedangkan suami menjadi suri rumah, yang mana telah pun wujud sekarang ini.

Keadaan ini amat bertentangan dengan lumrah kehidupan manusia itu sendiri sejak dari dahulu lagi, orang lelaki mencari rezeki sedangkan perempuan menjaga rumah dan anak-anak. Keadaan yang mula berubah sekarang ini adalah satu rekod sejarah, kerana tidak pernah sesekali berlaku di zaman dahulu lelaki yang menjaga anak manakala wanita bekerja di luar rumah. Ini lah situasi akhir zaman.

Dunia
akan menjadi rosak jika keadaan ini berterusan. Apa gunanya anda berkerjaya mewah dan tinggi sedangkan keluarga terabai. Anak-anak diuruskan oleh orang gaji. Ada juga ibu bapa yang menghantar anak-anak belajar dari pagi sampai petang kerana tiada masa untuk menjaga anak-anak.

Luangkan masa dengan mereka dan berikan masa untuk mereka bermain seperti anda ketika masih kecil. Masih ingat bukan?


Kadar jenayah yang meningkat saban tahun di dunia sekarang ini, akibat dari undang-undang Islam diabaikan dan diguna pakai undang-undang merapu ciptaan manusia yang bukannya semakin membina bahkan semakin meruntuhkan lebih-lebih lagi runtuhnya akhlak dan peradaban. Undang-undang yang saya tekankan adalah bukannya merujuk kepada hudud semata-mata tetapi merangkumi gaya hidup Islam sepenuhnya.

Wanita sekarang ramai yang gilakan pangkat dan jawatan tinggi serta bergaji lumayan. Ini pun satu penyakit yang tidak disedari ramai dan telah menjadi suatu perkara yang biasa. Sedangkan ia boleh menjejaskan kehidupan manusia itu sendiri suatu masa nanti. Wanita sekarang suka menjadi pemimpin, sedangkan jawatan kepemimpinan amat tidak sesuai dengan mereka. Kaum wanita hanya sesuai menjadi golongan penasihat, bukannya menjadi imam atau pemimpin. Itu yang perlu difikirkan kembali.

“Kaum lelaki itu adalah pemimpin dan pengawal yang bertanggungjawab terhadap kaum perempuan, kerana Allah telah melebihkan orang lelaki (daripada beberapa keistimewaan) atas orang-orang perempuan, dan juga kerana orang lelaki telah membelanja (memberi nafkah) sebahagian dari harta mereka”. 
(Surah an-Nisa’ : Ayat 34)

Ayat
 di atas dengan jelas dan terang (muhkam) menyatakan bahawa orang lelaki adalah pemimpin dan mempunyai kelebihan ke atas orang perempuan. Maka adakah kita masih tidak berpuas hati dengan firman Allah? Mahu mencari alasan lagi?

Rasulullah s.a.w. bersabda maksudnya:
“Suami adalah penjaga (pemimpin) terhadap kaum keluarga dan ia dipertanggungjawabkan terhadap orang-orang di bawah jagaannya dan isteri adalah penjaga (pemimpin) di dalam rumah tangga suaminya dan anak-anaknya dan dipertanggungjawabkan terhadap orang-orang yang di bawah tanggungannya” 

Hadith riwayat Bukhari.

Di dalam hadith di atas pun telah dibataskan kepimpinan isteri. Isteri tetap di bawah suami dan hanya boleh memimpin anak-anaknya. Kerana itu lah amat tidak sesuai sekali seorang wanita menjadi pemimpin sebuah masyarakat di mana masyarakat tersebut masih mempunyai ramai orang lelaki. Adakah lelaki-lelaki itu semua tidak pandai memimpin sehingga terpaksa menggunakan khidmat wanita untuk menjadi pemimpin. Perkara ini juga perlu dikaji semula, kerana kesan pengaruh British terhadap perjalanan kehidupan di negara-negara bekas jajahan mereka banyak terpengaruh dengan cara hidup mereka.

Imam Hasan Al-Banna


Menurut Imam Hasan Al-Banna, wanita tidak dibenarkan menjawat apa-apa jawatan di wilayah ‘ammah atau wazarah tafwid seperti kepimpinan ketenteraan (wilayah jihad), wilayah hisbah, wilayah kehakiman, wilayah haji, wilayah kharaj dan lain-lain bentuk umum. Selain dalil-dalil biasa dari Al-quran dan al-Hadith, beliau juga berdalilkan ijma’ amali yang menunjukkan bahawa sejak zaman Rasul SAW, baginda tidak pernah melantik kepimpinan umum di kalangan wanita dan hal ini berterusan hinggalah jatuhnya empayar Islam Uthmaniyyah. Malah Rasulullah SAW dan para sahabat juga tidak pernah melantik ahli keanggotaan syura (ahl al-hal wal aqd) dari kalangan wanita.
“Tidak akan pernah beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan (pemerintahan) mereka kepada seorang wanita” 
Hadith Riwayat Bukhari

Dan
 hujjah yang kukuh lagi tentang tidak layaknya wanita menjadi pemimpin lebih-lebih lagi pemimpin sebuah negara ialah tidak berlaku langsung pada zaman Nabi Muhammad S.a.w dan para sahabat bahawa mereka mengangkat seorang wanita menjadi khalifah. Itu sudah nyata dan terang bagi kita. jika benar wanita itu layak, sudah pasti telah dicontohi oleh Nabi dan sahabat kerana mereka adalah contoh terbaik kita. Sedangkan dalam hal berpoligami pun telah dicontohi oleh Nabi Muhammad S.a.w, adalah tidak munasabah tidak dicontohi wanita menjadi pemimpin, jika benarlah wanita itu layak untuk memimpin rakyat.

Ada pendapat yang mengatakan wanita boleh menjadi pemimpin berdasarkan kepada peristiwa Ratu Balqis di zaman Nabi Sulaiman. Tetapi perlu difikirkan semula, kisah Ratu Balqis berlaku di zaman mana? Dan apa yang jadi sesudah dia berkahwin dengan Nabi Sulaiman? Tetap Nabi Sulaiman menjadi pemimpin. Dan seperti hujah di atas, tiada dicontohi oleh Nabi dan para sahabat mengangkat wanita menjadi khalifah.

Jika kita teliti, banyak syarikat sekarang yang hanya mahu mengambil pekerja wanita sahaja. Kerana wanita boleh melariskan lagi perniagaan mereka. Ini sebenarnya mengekploitasi kehadiran wanita. Senario ini sepatutnya dikaji dengan teliti kembali agar ianya tidak menjadi parah di kemudian hari. Mencegah lebih baik dari merawat.

Saya sesekali tidak mengatakan bahawa kaum wanita tidak layak bekerja sama sekali. Tetapi kajian perlu diadakan semula bagi menilai sektor dan jenis pekerjaan manakah yang sesuai dan mana pekerjaan yang sepatutnya di serahkan kepada kaum lelaki sahaja. Ini bagi mengelakkan terjadinya p
engabaian terhadap anak-naka dalam rumahtangga, berlaku fitrah kemanusiaan yang songsang iaitu perempuan bekerja di luar sedangkan lelaki jaga anak dan menjadi suri rumah dan masyarakat mengalami kerugian kerana di pimpin oleh ramai orang perempuan.

Next Dear >>

Sabtu, 19 Januari 2013

Hadits Memperhatikan Kemaslahatan Ahli Waris


وعن أبي إسحاقَ سَعدِ بنِ أبي وَقَّاصٍ مالِكِ بنِ أُهَيْب بنِ عبدِ منافِ بنِ زُهرَةَ بنِ كلابِ بنِ مُرَّةَ بنِ كعبِ بنِ لُؤيٍّ القُرشِيِّ الزُّهريِّ  ، أَحَدِ العَشَرَةِ المشهودِ لهم بالجنةِ ، قَالَ : جاءنِي رسولُ اللهِ يَعُودُنِي عَامَ حَجَّةِ الوَدَاعِ مِنْ وَجَعٍ اشْتَدَّ بي ، فقُلْتُ : يَا رَسُولَ اللهِ ، إنِّي قَدْ بَلَغَ بي مِنَ الوَجَعِ مَا تَرَى ، وَأَنَا ذُو مالٍ وَلا يَرِثُني إلا ابْنَةٌ لي ، أفأَتَصَدَّقُ بِثُلُثَيْ مَالِي ؟ قَالَ : (( لا )) ، قُلْتُ : فالشَّطْرُ يَا رَسُولَ اللهِ ؟ فقَالَ : (( لا )) ، قُلْتُ : فالثُّلُثُ يَا رَسُولَ اللهِ ؟  قَالَ : (( الثُّلُثُ والثُّلُثُ كَثيرٌ -أَوْ كبيرٌ - إنَّكَ إنْ تَذَرْ وَرَثَتَكَ أغنِيَاءَ خيرٌ مِنْ أنْ تَذَرَهُمْ عَالَةً يتكفَّفُونَ النَّاسَ ، وَإنَّكَ لَنْ تُنفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغي بِهَا وَجهَ اللهِ إلاَّ أُجِرْتَ عَلَيْهَا حَتَّى مَا تَجْعَلُ في فِيِّ امْرَأَتِكَ )) ، قَالَ : فَقُلتُ : يَا رسولَ اللهِ ، أُخلَّفُ بعدَ أصْحَابي ؟ قَالَ : (( إِنَّكَ لَنْ تُخَلَّفَ فَتَعملَ عَمَلاً تَبتَغي بِهِ وَجْهَ اللهِ إلاَّ ازْدَدتَ بِهِ دَرَجةً  ورِفعَةً ، وَلَعلَّكَ أنْ تُخَلَّفَ حَتّى يَنتَفِعَ بِكَ أقْوَامٌ وَيُضَرَّ بِكَ آخرونَ . اللَّهُمَّ أَمْضِ لأصْحَابي هِجْرَتَهُمْ ولاَ تَرُدَّهُمْ عَلَى أعقَابهمْ ، لكنِ البَائِسُ سَعدُ بْنُ خَوْلَةَ )) يَرْثي لَهُ رَسُولُ اللهِ أنْ ماتَ بمَكَّة . مُتَّفَقٌ عليهِ .
Dari Abu Ishaq Sa’ad bin Abi Waqqash Malik bin Uhaib bin ‘Abdi manaf bin Zahrah bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’aiy al Quraisyiyyi az Zuhri radhiyallahu ‘anhu, salah seorang di antara sepuluh orang yang dijamin masuk surga. Ia berkata: Rasulullah pernah datang menjengukku pada tahun haji wada’, karena aku sakit keras, kemudian aku berkata: “Ya Rasulullah, sesungguhnya sakitku ini sangat keras sebagaimana engkau saksikan. Sedang aku mempunyai harta yang cukup banyak, sementara tidak ada seorangpun yang menjadi ahli warisku kecuali seorang anak perempuanku. Apakah boleh aku sedekahkan dua per tiga hartaku?” Beliau menjawab, “Tidak”, kemudian kutanyakan, “Bagaimana kalau setengahnya?” Beliau menjawab “Tidak.” Lalu kutanyakan, “Bagaimana jika sepertiganya ya Rasulullah? Selanjutnya beliau bersabda, “Ya, sepertiga, dan sepertiga itu banyak atau besar. Sesungguhnya jika engkau meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya, lebih baik daripada engkau tinggalkan mereka dalam keadaan kesusahan (miskin) seraya meminta-minta kepada orang. Sesungguhnya engkau tidak sekali-kali menafkahkan hartamu dengan mengharapkan keridhaan Allah melainkan engkau akan diberikan pahala atasnya bahkan pada apa yang engkau suapkan ke mulut istrimu.”
Lebih lanjut ia berkata, kemudian kukatakan, “Ya Rasulullah, apakah aku akan ditinggalkan (di Mekah) setelah kepergian sahabat-sahabatku darinya?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya tidaklah engkau ditinggalkan, lalu kamu mengerjakan suatu amalan yang engkau niatkan karena mencari ridha Allah, melainkan dengannya engkau akan bertambah derajat dan ketinggian. Barangkali engkau akan dipanjangkan umur, sehinga orang-orang dapat mengambil manfaat darimu, disamping ada juga orang lain yang merasa dirugikan olehmu. Ya Allah, biarkanlah hijrah sahabat-sahabatku terus berlangsung, dan janganlah Enkau kembalikan mereka ke tempat semula. Tetapi yang kasihan Sa’ad bin Khaulah.” Rasulullah sangat menyayangkan ia meninggal di Mekah.(Mutafaquh ‘alaihi)
Faedah hadits:
  1. Disyariatkan kepada pemimpin untuk menjenguk bawahannya yang sakit terutama jika sakit keras.
  2. Diperbolehkan menyebutkan sakit dengan tujuan yang benar, seperti meminta obat atau doa dari seorang yang shalih tanpa disertai keluhuhan dan sikap tidak ridha, hal ini tidak bertentangan dengan sifat kesabaran.
  3. Diperbolehkan meletakkan tangan di atas dahi orang yang sakit dan mengusap wajahnya serta mengusap  bagian tubuh yang sakit dan mendoakan semoga diberi umur yang panjang.
  4. Pahala berinfak diperoleh dengan syarat niat yang benar, mengharapkan ridha Allah.
  5. Diperbolehkan mengumpulkan harta, dengan syarat diperoleh dengan cara yang halal. Hal ini tidak termasuk penimbunan harta, selagi pemiliknya menunaikan haknya, yaitu zakat.
  6. Wasiat harta yang diberikan kepada selain ahli waris tidak boleh melebihi sepertiga (kecuali dengan izin ahli waris).
  7. Infak yang diberikan kepada keluarga mendapatkan pahala jika diniatkan untuk mengharap ridha Allah subhanahu wa ta’ala.
  8. Amal kebaikan dan ketaatan yang tidak bisa dilakukan, bisa diganti dengan yang lainnya dalam hal perolehan pahala dan balasan.
  9. Anjuran untuk menyambung silaturahmi keluarga dan berbuat baik kepada kerabat. Menyambung silaturahmi kepada keluarga yang lebih dekat lebih diutamakan dari pada keluarga jauh.
  10. Larangan memindahkan mayit dari negrinya ke negri lain. Jika hal ini disyariatkan, tentu Rasulullah akan memerintahkan untuk memindahkan jenazah Sa’id bin Khaulah.
  11. Mencegah dari sarana menuju keburukan, hal ini didasarkan pada sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam “Dan janganlah engkau mengembalikan mereka ke tempat mereka ditinggalkan,” agar tidak ada seorang pun menjadikan sakit sebagai sarana untuk mencintai negeri dan kampung halaman yang telah ditinggalkannya (karena hijrah).
  12. Kewajiban memperhatikan kemaslahatan ahli waris dan memelihara keadilan di antara mereka.
***
muslimah.or.id
Next Dear >>

Kedudukan Wanita Dalam ISLAM


Berikut ini adalah jawaban dari pertanyaan yang terdapat dalam majalah Al-Jail di Riyadh (Arab Saudi) tentang kedudukan wanita dalam Islam yang disampaikan oleh Syaikh Ibnu Baz.
***
Segala puji hanya milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi dan Rasul yang paling mulia, kepada keluarganya, sahabatnya, serta kepada siapa saja yang meniti jalannya sampai hari pembalasan.
Sesungguhnya wanita muslimah memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam dan pengaruh yang besar dalam kehidupan setiap muslim. Dia akan menjadi madrasah pertama dalam membangun masyarakat yang shalih, tatkala dia berjalan di atas petunjuk Al-Qur’an dan sunnah Nabi. Karena berpegang dengan keduanya akan menjauhkan setiap muslim dan muslimah dari kesesatan dalam segala hal.
Kesesatan dan penyimpangan umat tidaklah terjadi melainkan karena jauhnya mereka dari petunjuk Allah dan dari ajaran yang dibawa oleh para nabi dan rasul-Nya. Rasulullah bersabda, “Aku tinggalkan pada kalian dua perkara, di mana kalian tidak akan tersesat selama berpegang dengan keduanya, yaitu Kitab Allah dan sunnahku.” (Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam al-Muwaththa’ kitab Al-Qadar III)
Sungguh telah dijelaskan di dalam Al-Qur’an betapa pentingnya peran wanita, baik sebagai ibu, istri, saudara perempuan, mapun sebagai anak. Demikian pula yang berkenaan dengan hak-hak dan kewajiban-kewajibannya. Adanya hal-hal tersebut juga telah dijelaskan dalam sunnah Rasul.
Peran wanita dikatakan penting karena banyak beban-beban berat yang harus dihadapinya, bahkan beban-beban yang semestinya dipikul oleh pria. Oleh karena itu, menjadi kewajiban bagi kita untuk berterima kasih kepada ibu, berbakti kepadanya, dan santun dalam bersikap kepadanya. Kedudukan ibu terhadap anak-anaknya lebih didahulukan daripada kedudukan ayah. Ini disebutkan dalam firman Allah,
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu. Hanya kepada-Ku lah kamu akan kembali.” (QS. Luqman: 14)
Begitu pula dalam firman-Nya, “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada ibu bapaknya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandung dan menyapihnya adalah tiga puluh bulan.” (QS. Al-Ahqaf: 15)
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa pernah ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah dan berkata, “Wahai Rasulullah, siapa orang yang paling berhak bagi aku untuk berlaku bajik kepadanya?” Nabi menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi, “Kemudian setelah dia siapa?” Nabi menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi, “Kemudian setelah dia siapa?” Nabi menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi, “Kemudian setelah dia siapa?” Nabi menjawab, “Ayahmu.” (HR. Bukhari, Kitab al-Adab no. 5971 juga Muslim, Kitab al-Birr wa ash-Shilah no. 2548)
Dari hadits di atas, hendaknya besarnya bakti kita kepada ibu tiga kali lipat bakti kita kepada ayah. Kemudian, kedudukan isteri dan pengaruhnya terhadap ketenangan jiwa seseorang (suami) telah dijelaskan dalam Al-Qur’an.
Allah berfirman,
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan menjadikan rasa kasih dan sayang di antara kalian.” (QS. Ar-Rum: 21)
Al-Hafizh Ibnu Katsir -semoga Alah merahmatinya- menjelaskan pengertian firman Allah: “mawaddah wa rahmah” bahwa mawaddah adalah rasa cinta, dan rahmah adalah rasa kasih sayang.
Seorang pria menjadikan seorang wanita sebagai istrinya bisa karena cintanya kepada wanita tersebut atau karena kasih sayangnya kepada wanita itu, yang selanjutnya dari cinta dan kasih sayang tersebut keduanya mendapatkan anak.
Sungguh, kita bisa melihat teladan yang baik dalam masalah ini dari Khadijah, isteri Rasulullah, yang telah memberikan andil besar dalam menenangkan rasa takut Rasulullah ketika beliau didatangi malaikat Jibril membawa wahyu yang pertama kalinya di goa Hira’. Nabi pulang ke rumah dengan gemetar dan hampir pingsan, lalu berkata kepada Khadijah, “Selimuti aku, selimuti aku! Sungguh aku khawatir dengan diriku.” Demi melihat Nabi yang demikian itu, Khadijah berkata kepada beliau, “Tenanglah. Sungguh, demi Allah, sekali-kali Dia tidak akan menghinakan dirimu. Engkau adalah orang yang senantiasa menyambung tali silaturahim, senantiasa berkata jujur, tahan dengan penderitaan, mengerjakan apa yang belum pernah dilakukan orang lain, menolong yang lemah dan membela kebenaran.” (HR. Bukhari, Kitab Bad’ al-Wahyi no. 3, dan Muslim, Kitab al-Iman no. 160)
Kita juga tentu tidak lupa dengan peran ‘Aisyah. Banyak para sahabat, baik yang laki-laki maupun yang perempuan, menerima hadits darinya berkenaan dengan hukum-hukum agama.
Kita juga tentu mengetahui sebuah kisah yang terjadi belum lama ini berkenaan dengan istri Imam Muhammad bin Su’ud, raja pertama kerajaan Arab Saudi. Kita mengetahui bahwa isteri beliau menasehati suaminya yang seorang raja itu untuk menerima dakwah Imam al-Mujaddid Muhammad bin Abdul Wahhab. Sungguh, nasehat isteri sang raja itu benar-benar membawa pengaruh besar hingga membuahkan kesepakatan antara Imam al-Mujaddid Muhammad bin Abdul Wahhab dengan Imam Muhammad bin Su’ud untuk menggerakkan dakwah. Dan -alhamdulillah— kita bisa merasakan hasil dari nasehat istri raja itu hingga hari ini, hal mana aqidah merasuk dalam diri anak-anak negeri ini. Dan tidak bisa dipungkiri pula bahwa ibuku sendiri memiliki peran dan andil yang besar dalam memberikan dorongan dan bantuan terhadap keberhasilan pendidikanku. Semoga Allah melipat gandakan pahala untuknya dan semoga Allah membalas kebaikannya kepadaku tersebut dengan balasan yang terbaik.
Tidak diragukan bahwa rumah yang penuh dengan rasa cinta, kasih dan sayang, serta pendidikan yang islami akan berpengaruh terhadap kehidupan seseorang. Dengan izin Allah seseorang yang hidup dalam lingkungan rumah seperti itu akan senantiasa mendapatkan taufik dari Allah dalam setiap urusannya, sukses dalam pekerjaan yang ditempuhnya, baik dalam menuntut ilmu, perdagangan, pertanian atau pekerjaan-pekerjaan lain.
Kepada Allah-lah aku memohon semoga Dia memberi taufik-Nya kepada kita semua sehingga dapat melakukan apa yang Dia cintai dan Dia ridhai. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya dan sahabat-sahabatnya. (Majmu’ Fatawa Syaikh Ibnu Baz III/348)
Tidak Suka Dengan Kelahiran Anak Wanita Termasuk Perilaku Jahiliyah
Tanya: Pada zaman ini, kita sering mendengar perkara-perkara yang biasa menjadi bahan perdebatan orang karena ganjilnya. Di antaranya mungkin kita pernah mendengar sebagian orang mengatakan, “Kami tidak suka menggauli istri kami jika yang lahir adalah anak perempuan.” Sebagian lagi mengatakan kepada istrinya, “Demi Allah, jika engkau melahirkan anak perempuan, saya akan menceraikanmu.” -Kita berlepas diri dari orang-orang seperti itu-. Sebagian dari wanita ada yang mendapatkan perlakuan semacam itu dari suaminya. Mereka merasa gelisah dengan perkataan suaminya yang seperti itu. Bagaimana dan apa yang mesti mereka perbuat terhadap perkataan suami seperti itu? Apa nasehat Syaikh dalam masalah ini?
Jawab: Saya yakin apa yang dikatakan saudara penanya adalah sesuatu yang sangat jarang terjadi. Saya tidak habis pikir, bagaimana ada seorang suami yang kebodohannya sampai pada taraf seperti itu; mengultimatum akan menceraikan isterinya jika anak yang dilahirkannya anak perempuan. Lain masalahnya, kalau sebenarnya dia sudah tidak suka dengan isterinya, kemudian ingin menceraikannya dan menjadikan masalah ini sebagai alasan agar dapat menceraikannya. Jika ini masalah yang sebenarnya; dia sudah tidak bisa bersabar lagi untuk hidup bersama isterinya, dan telah berusaha untuk tetap hidup berdampingan dengannya akan tetapi tidak berhasil; jika ini masalah yang sebenarnya, hendaknya dia mencerai istrinya dengan cara yang jelas, bukan dengan alasan seperti itu.
Karena perceraian dibolehkan asalkan dengan dengan alasan yang syar’i. Akan tetapi, meskipun demikian, kami menasehatkan kepada para suami yang mendapatkan hal-hal yang tidak disukai pada diri isterinya agar bersabar, sebagaimana yang difirmankan Allah, “Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka (isteri-isteri kamu), (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa’: 19)
Adapun membenci anak perempuan, tidak diragukan bahwa itu merupakan perilaku jahiliyah, dan di dalamnya terkandung sikap tasakhuth (tidak menerima) terhadap apa yang telah menjadi ketetapan dan takdir Allah. Manusia tidak tahu, mungkin saja anak-anak perempuan yang dimilikinya akan lebih baik baginya daripada mempunyai banyak anak laki-laki. Berapa banyak anak-anak perempuan justru menjadi berkah bagi ayahnya baik semasa hidupnya maupun setelah matinya. Dan berapa banyak anak-anak lelaki justru menjadi bala dan bencana bagi ayahnya semasa hidupnya dan tidak memberi manfaaat sedikit pun setelah matinya.
Rujukan:
Fatawa Ulama al-Balad al-Haram hal. 519.
Majmu’ Fatawa Syaikh Ibnu Baz (III/348).

Sumber: Majalah Fatawa
Next Dear >>

Cara Menjadi Istri yg Sholeha

 Hindarilah!!!
1. Al -Anaanah: banyak keluh kesah. Yg selalu merasa tak cukup, apa yg diberi semua tak cukup. diberi rumah tak cukup, diberi motor tak cukup, diberi mobil tak cukup, dll. Tak redha dg pembelaan dan aturan yg diberi suami. Asyik ingin memenuhi kehendak nafsu dia saja, tanpa memperhatikan perasaan suami, tak hormat kepada suami apalagi berterima kasih pada suami. Bukannya hendak menolong suami, apa yg suami beri pun tak pernah puas. Ada saja yg tak cukup.

2. Al-Manaanah: suka mengungkit. Kalau suami melakukan hal yg dia tak berkenan maka diungkitlah segala hal tentang suaminya itu. sangat senang hendak membicarakan suami: tak ingat budi, tak bertanggungjawab, tak sayang dan macam-macam. Padahal suami sudah memberi perlindungan macam2 padanya.

3. Al -Hunaanah:
ingin pada suami yg lain atau berkenan kpd lelaki yg lain. sangat suka membanding-bandingkan suaminya dg suami/lelaki lain. Tak redha dg suami yg ada.



4. Al- Hudaaqah: suka memaksa. Bila hendak sesuatu maka dipaksa suaminya melakukan. Pagi, petang malam asyik menekan dan memaksa suami. Adakalanya dg berbagai ancaman: ingin lari, ingin bunuh diri, ingin membuat malu suami, dll. Suami dibuat seperti budaknya, bukan sebagai pemimpinnya. Yg dipentingkan adalah kehendak dan kepentingan dia saja.

5. Al -Hulaaqah:
sibuk bersolek atau tidur atau santai2 dll hingga lalai dg ibadah-ibadah asas, seperti solat berjemaah, wirid zikir, mengurus rumah-tangga, berkasih sayang dg anak2, dll.

6. As-Salaaqah:
banyak berbicara, menggosip. Siang malam, pagi petang asik menggosip terus. Apa saja yg suami kerjakan selalu tidak benar dimatanya. Zaman sekarang ni bergosip bukan saja berbicara di depan suami, tapi dg telfon, SMS, internet, BBM dan macam2 cara yang lain . Yg jelas isteri tu asyik menyusahkan suami dg kata2nya yg menyakitkan.

gmn??? setuju gk dgn artikel diatas...menurut saya istri sholeha harus menghindari sifat diatas
Next Dear >>